Apa yang Salah Dengan Rasa ini, Tuhan.

2014-04-19 / Dewi Dewi / Apa yang Salah Dengan Rasa ini, Tuhan. / Bahasa Indonesia / Tidak Ada


Apa yang Salah dengan Rasa ini, Tuhan?
oleh: Dewi Dewi

I

Seperti pada malam-malam sebelumnya, air mata ini jatuh berderaian. Aku tak kuasa, ketika sepenggal kisah yang tak dapat aku tahan mengusik kembali di ingatanku, kisah itu seperti di restart ulang dalam otakku. Iya, dari masa ke masa, mengapa kisah-kisah yang kurang enak dikonsumsi hati itu yang selalu kukenang? Sebenarnya aku tidak ingin terus hidup di bawah bayang-bayang masa lalu. Tapi apalah daya..

Aku adalah salah satu manusia yang hati dan perasaanku mudah melemah, mungkin karna gizi kehidupan kurang memenuhi syarat dalam kehidupanku. Atau entahlah...
Kalau melihat diriku sendiri melalui mata hati dan perasaanku , aku ini bagai sebutir pasir di pantai, menanti ombak datang membelai dengan kelembutan. seperti itulah halnya diriku dan rasa ini, diantara pasir-pasir yang lain, aku masih setia menanti. Menanti keajaiban dariMu, Tuhan... Apalagi disaat-saat seperti ini. Tuhan, apa sebenarnya yang salah dengan rasa ini?

Beberapa nama kusebut dalam larik-larik zikir malamku, kupastikan nama-nama itu kubacakan dengan sepenuh hati dan pengharapan, agar kasih sayang-Nya untuk mereka dan begitupun untukku.
(Kau) itulah caraku menyebut namamu. Aku masih ingat, bagaimana kita dipertemukan. Iya, pada jalur tuan Google kutemukan sebuah nama disana. Aku menyebutmu tanpa nama, karena aku tak ingin ada yang tahu akan kisah kita.
Bagai mendapat sinyal dalam ranger yang begitu dekat, sinyal-sinyal sederhana namun berkilauan kurasa, kau kirimkan meluluhkan hatiku yang sedang bertabur rindu. Dalam waktu yang begitu dekat, jarak yang kian mengakrabkan kita. Kau jemput aku pada sebuah pintu yang menjanjikan sebuah kehangatan yang begitu menggoda. Aku jatuh dipelukmu pada kali pertama bertemu.

Aku memanggilmu tanpa nama, dalam senyummu aku temukan berjuta pengharapan yang ingin aku raih. Dalam senyummu aku temukan rindu yang tercecer yang sengaja kau jatuhkan untukku. Dalam senyummu aku yakin, kaupun menginginkan hal yang sama. Namamu kini menjadi puisi malam-malamku, dan aku memberinya judul “ Ingin Selalu Dekat Denganmu” .

II

Sebelum aku dipertemukan dengan orang ke- 4, rasa yang entah kembali datang mengusik. Aku menyebutnya orang ke empat, karna sebelumnya ada beberapa orang yang pernah menjadi bagian dalam hidup ini, baik dalam suka dan prahara. Saat ini aku seperti di tempatkan pada sebuah titik jenuh yang membuat aku menyerah dan entahlah. Yang aku sadari aku kembali terjatuh pada sebuah lubang yang sama. Aku menangis dalam hati. Aku menangis, ketika kutemukan diriku pada sebuah tempat yang membawaku pada kisah yang bernama (masa lalu kembali lagi). Kini aku seperti tersesat pada sebuah jalan yang pernah aku lewati, namun aku tidak tahu bagaimana cara untukku kembali. Tuhan, apa yang salah dengan rasa ini?
Hanya gelap, dan senyuman manusia-manusia kesepian yang nampak menghiasi otakku, termasuk diriku sendiri. Menghiasi malam-malamku yang penuh tanda tanya, bingung, itulah yang aku rasa.

seperti seorang insan yang sedang memunguti hati dan perasaannya untuk disatukan kembali. Hatiku tercecer pada sebuah tempat yang tidak bisa aku pastikan. Aku terdiam dalam bisu, menangis tanpa suara, merintih pada sebuah luka yang kian mendalam. Tuhan, apa yang salah dengan rasa ini?
Mengapa aku begitu mudah untuk terjatuh dan terjatuh lagi.? Ini sudah kali ke-4-nya. Mengapa kisahnya selalu sama? Kau, yang ke-4, belum mampu aku beri nama. Rasa yang kau beri tak dapat aku hapuskan. ketika belaian lembut membawaku pada titik sebuah puncak yang membuatku melayang, dalam hati aku ingin terus memiliki.

III

Duniaku seperti (kau) tukar lagi.
Ceritanya, telah aku temukan jalan lurus menuju keridhaanNya, saat aku temukan puncakku pada sebuah keputusasaan. Tuhan terasa dekat sekali denganku. kini semua bagai hilang disapu oleh gelap yang tiba-tiba datang menghampiriku. aku bagai hilang arah, tak tahu kemana aku harus melangkah, tak tahu pada siapa kuharus kembali? Yang aku tahu aku hanya mengikuti hidup ini yang terus berjalan. Tuhan, apa yang salah dengan rasa ini?
Aku masih ingat tentang sebuah senyuman yang hanya menginginkan sebuah kepuasan saja. Aku hanya mampu mengeryitkan dahiku, kemudian menangis jatuh pada sudut sujud penyesalan. Aku bertanya, Tuhan, hidupku ini untuk apa? Mengapa sulit untukku menemukan seperti halnya hal-hal yang aku inginkan. Kebahagiaan dan keridhaanMu pun kini seperti telah dijauhkan kembali.

Malam ini, doa-doa malamku kembali melantun dan mengalir seiring air mata hangat sehangat rinduku huh. kubacakan selembar kisah yang aku tulis yang berjudul “ Aku Terperangkap Lagi” berharap kisah ini hanya menjadi sebuah kisah agar ke depannya mampu untuk lebih berhati-hati dan tidak menjadi penyesalan dikemudian hari. Siapa yang mampu menentukan ending dari apa yang kita rencanakan? Kita hanya mampu untuk mengawalinya!

Aku Terperangkap Lagi!

Chapter: 1

Telah kuukir kisah pada saat musim semi tahun 2001, aku menamainya sebagai musim bunga-bunga bermekaran, walau sebenarnya badai kemarau datang menerpa kotaku kala itu. Aku menamainya sebuah kota, kota yang penuh dengan kenangan yang tak akan aku lupakan disepanjang zaman.

Diusia remajaku telah aku tanam berjuta butir benih impian, hingga jejak kaki telah aku pijakkan ke negri seberang. Singapura awal kupunya cerita. Aku punya impianku kala itu, “ Bapak, Ibu, aku kepingin sekolah SMA” Hingga ke negri ini aku menapakkan kaki, aku tak ingin menambah beban bapak, ibu, hanya gara-gara pingin sekolah saja beban mereka jadi bertambah. Karena kuyakin, tanpa menengadahkan tangan apa yang aku inginkan dapat kupenuhi. Itulah aku.

Tapi setelah bekal dan rencana kudapat dan kurasa cukup, diujung kegalauan sesosok setan berwujud pangeran datang membawa kabar gembira dengan keajaiban-keajaiban yang ia rekayasa, aku jatuh dipelukannya kali pertama dalam hidup.
Terasa sesak didada bapakku, sulit untuknya bernapas ketika mengetahui kabar ini. dialah orang pertama yang tidak dapat menerima kenyataan ini. kepercayaan terhadapnya bagai hilang sudah. Tak disangka, jika orang terdekat seperti dia menyimpan niat jahat di hati. Membuatku ingin mati!

Aku tidak tahu kejadian itu akan kukabarkan pada siapa? Awalnya aku hanya memilih diam dalam kebingungan. Sebotol minuman bersoda, segenggam obat-obatan yang begitu pahit. Aku menelannya dengan penuh harapan, agar aku tak dapat melihat dunia esok hari.
Tidakk!!!
Tuhan tidak memihakku.
Mungkin.., masih banyak chapter-chapter kehidupan yang harus aku selesaikan. kisah yang sudah tergariskan mungkin tak bisa digantikan. Dan kala itu aku menyebutnya chapter kehidupan yang harus aku lalui. Maka akan ada chapter chapter berikutnya yang sudah menanti untuk aku perankan.

Chapter:2

Ketika semua berlalu begitu saja, impian untuk sekolah SMA bagai hilang sudah. Namun keinginan dari berbagai pihak mengharapkanku untuk tetap melanjutkan pendidikan jurusan keperawatan ada harapan yang mungkin saja bisa aku raih disana. Karna mereka nilai lulusan SMA tidak bisa menghasilkan apa-apa. Namun, terlebih harapan itu untuknnya, ia masih ingin dengan leluasa memfaatkanku kala aku jauh dari keluargaku.
Bangsattt!!
Kebodohanku membuat si bangsat itu makin menggila. Aku menyebutnya bangsat, karna dialah orang pertama yang menghancurkan segalagala yang aku punya. Dengan tanpa adanya penyesalan masih bisa-bisanya ia mengucapkan “ Aku akan sering berkunjung ke tempat kostanmu.” Shittt!!! Kuputuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Titik!!
Bodohnya aku...
Hingga berbadan dua pun dialah orang pertama yang tahu! Bodohnya aku. Aku sama sekali tak paham akan urusan itu!
Bodohnya aku...

Iya, aku memang bodoh. Dia memang seorang docter, mampu mengenali segala jenis indikasi yang sedang terjadi. Dia bergerak begitu cepat. Apa yang ia pikirkan dan hal itulah yang terjadi. dicabik-cabik benih yang ia tanam yang telah tumbuh di dalam rahimku. Masih belum cukupkah itu? terasa ngilu di hatiku, kala benda-benda tajam itu mennggunting-gunting segumpal daging yang dianggap bakal membahayakan dunia. Masih kuingat, bagaimana mereka menyumpal mulutku agar tak terdengar suara ketika aku berteriak. masih kuingat, ketika ceceran darah mengalir begitu saja kala kali pertama, Masih aku ingat, bagaimana wajahnya tersenyum puas dan mengaminkan semua ini. usiaku kala itu masih 18 tahun. Aku menyebutnya sebuah masa yang kurang beruntung. Maafkan aku, Tuhan. Jika aku terlalu lancang untuk menyebut hal ini. Huhuh..

Chapter:3

Kehidupanku setelah menikah dengan yang lain.
Sejak dulu aku sepertinya tak mampu berfikir matang dalam menjalani sebuah hal, atau mungkin aku terlalu jujur? Atau aku terlalu percaya? seperti pada pernikahan ini. apakah dia sebenarnya orang yang aku inginkan?. Ah.., semua sudah terjadi. hatiku sedang kacau saat itu. Labil mungkin itu orang menyebutnya. Nyeri di hati, nyeri di rahim masih terasa hebat. Mendengar ancamannya hal mana yang tidak aku turuti keinginannya? Aku bersedia menikah dengannya karna diancam? Betapa bodohnya aku!

Berbekal kasih sayang dan mau menerima aku apa adanya buktinya apa? hatiku mudah luluh begitu saja. Betapa bodohnya aku! Benarkah dia yang menjabat sebagai ... dapat menerimaku apa adanya tanpa adanya suatu hal yang sedang ia pikirkan saat itu? Sakit rasanya diungkit-ungkit. Ketika hidup harus aku bayar dengan ketidak pastian, mengatas namakan cinta, ketulusan, dan pengorbanan. (Agrr!) Apa yang salah dengan diri ini? Kenyataannya tak seperti yang kuharapkan.
Kegemaranmu mengancamku, membuatku tidak jera lagi untuk pergi sejauh-jauhnya darimu. Apakah itu caramu, untuk menyatakan ketulusanmu?
Demi, Tuhan. Sebagai seorang wanita aku menginginkan rasa nyaman yang seimbang.
Kau, gemar sekali membuat kisahmu sendiri yang seolah-olah kaulah manusia yang paling menderita sekali di dunia ini, dan aku akulah magluk lain yang beruntung karna mendapatkan kau yang mau menerimaku dengan keadaan seperti itu. tidakkah kau lihat aku??? Terima kasih kuucapkan..
Tapi aku jadi muakkk! Maaff!!

Chapter:4

Formosadelaforaaa

2009 Awal yang pahit meninggalkan buah-buah hatikuu.
- Jales Purbo Prakoso
- Mahendra Dwiancahyo Prakoso
- Mereka adalah akhiratku.
Dari sisi bumi ini apa yang belum aku rasakan? Aku hanya butuh seorang pemimpin untuk tujuan akhir dari hidupku ... selebihnya aku hanya ingin menikmati hidup.
Tuhan, andai saja semua ini adalah mimpi, maka bangunkanlah aku jika semuanya telah usai.
@@@

IV

Doa malam-malamku kembali bersenandung.
Halalkan aku, Tuhan...
Halakanlah aku dan dia. Dua napas kami yang menyatu dalam rindu, menikmati segala rasa yang Engkau ciptakan.
Kupanggil dia yang tanpa nama, karna aku masih takut dalam artian yang sulit untuk aku jelaskan, namun Kau telah tahu semuanya. Dialah orang ke-4 yang telah aku ceritakan.
Rasa ini kian mendera bila nanti tanpa adanya pengakuan lalu menghilang begitu saja. Tahukah kau? Hal itu tak dapat aku lupakan sepanjang hidupku.
Halalkan aku, Tuhan..
Halalkan aku pada sebuah titik kehidupan untuk hidup bersamanya. Hidup tanpa penyesalan, hidup tanpa kehinaan, hidup tanpa kegelapan, yang kian nista.

Selamatkan aku dari bara api itu, Tuhan. Bertahun-tahun aku mencoba menjaga kesucian hati ini, tak ingin rasanya mengotorinya begitu saja. Walau jalan yang sama kini terulang kembali, aku ingin Kau mengubahnya menjadi cerita hidup yang begitu indah. Selamatkan aku, Tuhan.. selamatkanlah aku dari api nerakaMu.


Duhai engkau..
Akan kukenang namamu selalu dalam sejarah sepanjang hidupku. Hari-hariku dan malam-malamku. Kau akan menjadi sajak-sajak yang indah yang akan terus aku lantunkan. Agar engkau dan aku menjadi sebuah cerita yang nyata.
Neihu Dist 2014